Percakapan chatsex deanna pappas who is she dating now

– Perkenalkan nama saya Nendi umur 29 tahun, saya bekerja di sebuah hotel berbintang tiga di kota “B”.Seperti kebanyakan orang bekerja yang kadang membuat kita jenuh, untuk mengatasinya aku sering mengunjungi situs Rumah Seks, sampai akhirnya saya terobsesi untuk menulis cerita ini.– Cerita ini berawal dari pulang kemalaman dengan seorang sekretaris teman sekantor di bagian lain, namanya Vivi berperawakan sintal dengan kulit putih dan tinggi badan yang sedang-sedang saja sekitar 165 cm.Sebetulnya Vivi bukanlah tipe orang yang ramah walaupun dia seorang sekretaris, mungkin karena om-nyalah dia ada di posisi tersebut.Oh ya, Vivi juga sudah menikah kira-kira satu setengah tahun yang lalu, dan saya pernah beberapa kali ketemu dengan suaminya.***** Pagi itu pada saat jam masuk kantor aku berpapasan dengannya di pintu masuk, seperti biasa kita saling tersenyum dan mengucapkan selamat pagi.

Percakapan chatsex-54Percakapan chatsex-85

“Terima kasih Pak nendi, hampir saja aku terjatuh.” “Oh, nggak apa-apa, maaf barusan tidak sengaja.” “Tidak apa-apa.” Seperti itulah dialog yang terjadi pagi itu.Walaupun nggak mau mikirin terus kejadian tersebut tapi aku tetap merasa kurang enak karena telah menyentuh sesuatu pada tubuhnya walaupun nggak sengaja, waktu kutengok ke arah meja kerjanya melalui kaca pintu ruanganku dia juga kelihatannya kepikiran dengan kejadian tersebut, untung waktu masuk kerja masih empat puluh lima menit lagi jadi belum ada orang, seandainya pada saat itu sudah banyak orang mungkin dia selain merasa kaget juga akan merasa malu.Aku kembali melakukan rutinitas keseharian menggeluti angka-angka yang yang nggak ada ujungnya.Sudah kebiasaanku setiap tiga puluh menit memandang gambar panorama yang kutempel dikaca pintu ruanganku untuk menghindari kelelahan pada mata, tapi ternyata ada sesuatu yang lain di seberang pintu ruanganku pada hari itu, aku melihat Vivi sedang memandang ke arah yang sama sehingga pandangan kami bertemu.Lagi, dia tersenyum kearahku, aku malah jadi bertanya-tanya ada apa gerangan dengan cewek itu, aku yang geer atau memang dia jadi lain hari ini, ah mungkin hanya pikiranku saja yang ngelantur.Jam istirahat makan seperti biasa semua orang ngumpul di EDR untuk makan siang, dan suatu kebetulan lagi waktu nyari tempat duduk ternyata kursi yang kosong ada di sebelah Vivi, akhirnya aku duduk disana dan menyantap makanan yang sudah kuambil.Setelah selesai makan, kebiasaan kami ngobrol ngalor-ngidul sambil menunggu waktu istirahat habis, karena aku duduk disebelah dia jadi aku ngobrol sama dia, padahal sebelumnya aku males ngobrol sama dia. ” aku memulai percakapan “Baik pak.” “Trus gimana kerjaannya? ” “Sekarang sedang meneruskan studi di amerika, baru berangkat satu bulan yang lalu.” “Oh begitu, baru tahu aku.” “Ingin lebih pintar katanya pak.” “Ya baguslah kalau begitu, kan nantinya juga untuk mesa depan berdua.” “Iya pak.” Setelah jam istirahat habis semua kembali ke ruangan masing-masing untuk meneruskan kerjaan yang tadi terhenti. Pukul setengah tujuh aku bermaksud beres-beres karena penat juga kerja terus, tanpa sengaja aku nengok ke arah pintu ruanganku ternyata Vivi masih ada di mejanya.Setelah semua beres akupun keluar dari ruangan dan bermaksud untuk pulang, aku melewati mejanya dan iseng aku nyapa dia. ” “Iya pak, ini baru mau pulang, baru beres, banyak kerjaan hari ini” Aku merasakan gaya bicaranya lain hari ini, tidak seperti hari-hari sebelumnya yang kalau bicara selalu kedengaran resmi, yang menimbulkan rasa tidak akrab.“Ya udah kalo begitu kita bareng aja.” ajakku menawarkan.“Tidak usah pak, biar aku pulang sendiri saja.” “Nggak apa-apa, ayo kita bareng, ini udah terlalu malam.” “Baik Pak kalau begitu.” Sambil berjalan menuju tempat parkir kembali kutawarkan jasa yang walaupun sebetulnya niatnya hanya iseng saja. “Nggak apa-apa pak.” “Nggak apa-apa kok ngelamun begitu, perlu teman buat ngobrol? “Nggak ah pak, malu.” “Kok malu sih, nggak apa-apa kok, ngobrol aja aku dengerin, kalo bisa dan perlu mungkin aku akan bantu.” “Susah mulainya pak, soalnya ini terlalu pribadi.” “Oh begitu, ya kalo nggak mau ya nggak usah, aku nggak akan maksa.” “Tapi sebetulnya memang aku perlu orang untuk teman ngobrol tentang masalah ini.” “Ya udah kalo begitu obrolin aja sama aku, rahasia dijamin kok.” “Ini soal suami aku pak.” “Ada apa dengan suaminya?“Gimana kalo vivi bareng aku, kita kan searah.” “Nggak usah pak, biar aku pakai angkutan umum atau taksi saja.” “Lho, jangan gitu, ini udah malem, nggak baik perempuan jalan sendiri malem-malem.” “Baik kalau begitu pak.” Di sepanjang jalan yang dilalui kami tidak banyak bicara sampai akhirnya aku perhatikan dia agak lain, dia kelihatan murung, kenapa ini cewek. ” “Itu yang bikin aku malu untuk meneruskannya.” “Nggak usah malu, kan udah aku bilang dijamin kerahasiaannya kalo vivi ngobrol ke aku.” “Anu, aku sering baca buku-buku mengenai hubungan suami istri.” “Trus kenapa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

One thought on “Percakapan chatsex”